aku, kini dan nanti :)

Untuk anakku,

Saat ini, badanku sudah renta, bukan lagi badanku yang dulu- badan kuat Ayah kebangganmu, yang bahu dan lehernya menjadi tumpuanmu. Maklumilah diriku. Tetaplah bersabar menghadapi ketidakmampuanku yang semakin banyak.

Saat ini, engkau mulai menyaksikan pemandangan yang kotor di hadapanmu karenaku. Bahkan, baru saja air liurku terjatuh tercecer di lantai dan telah menodai sepatumu. Maklumilah diriku. Ingatlah saat engkau mengajakku bermain di pagi hari, muntah, dan mengotori pakaian kerjaku.

Saat ini aku sering mengulang-ulang terus ucapanku hingga membuatmu bosan. Bersabarlah. Ingatlah di masa engkau meminta aku membaca setiap cerita dongeng yang kuulang-ulang untuk mengantar tidur dan mimpi indahmu.

Saat ini, aku membutuhkanmu untuk mengelap dan membersihkan tubuhku. Lakukanlah dengan senang hati. Ingatlah bagaimana susahnya membujukmu berhenti bermain agar aku bisa memandikanmu.

Saat ini, aku telah melakukan kesalahan dengan mengenakan bajuku terbalik, bahkan sempat terlihat oleh tamumu saat aku melintas dari ruang tamu. Perbaikilah. Ingatlah setiap ingin bermain di luar rumah, engkau berkali-kali memasang terbalik sepatumu dan aku selalu membenahinya untukmu.

saat ini, aku sering bingung dan tidak lagi dapat menjangkau pembicaraanmu. Janganlah merendahkanku. Ingatlah cara-cara yang kulakukan untuk menjawab setiap 'mengapa' yang selalu kau ajukan saat itu.

Saat ini, kita berjalan bersama, namun aku tidak mampu lagi untuk mengimbangi kecepatan langkahmu. Tetaplah di sampingku, beriringanlah denganku, dan ulurkanlah tanganmu. Ingatlah bagaimana engkau belajar berjalan saat itu.

Saat ini, aku sering lupa berbagai peringatanmu, termasuk menggunakan sendok garpu di tanganku. Janganlah bosan mengingatkanku atau mungkin melakukannya untukku. Ingatlah pada masa kecilmu saat engkau belajar menggunakan sendok,garpu, piring dan gelas.

Saat ini, aku sering mengajakmu duduk bercerita di belakang rumah dekat kandang ayam kita. Namun, aku tidak mudah lagi mencerna setiap maksud pembicaraanmu, apalagi tentang pekerjaanmu. Janganlah bosan. Perlu engkau tahu, sebenarnya topik pembicaraanmu bukan lagi hal yang penting bagiku. Asal engkau ada di sisiku, itulah kerinduanku.

Saat ini, kursi roda pembelianmu rusak karena aku sudah menggunakannya. Harusnya kugunakan rem, tapi malah menabrak pot bunga kesayangan istrimu hingga pecah. Janganlah marah. Ingatlah suatu malam saat engkau menangis memintaku membelikan sepeda yang kau tunjukkan di siang harinya. Pagi-pagi sekali aku bergegas membelikan sepeda yang mahal itu. Namun di siang hari, sepeda itu sudah tercerai berai dan rongsok di halaman rumah kita.

Saat ini, mungkin aku seolah-olah tidak menghargai usahamu yang membelikanku makanan kesukaanku, karena tidak lebih dari dua sendok makanan yang melewati tenggorokanku. Bersabarlah. Ingatlah ketika setiap aku menyuapimu makan, setiap kali pula engkau mencoba memuntahkan makanan itu sebelum masuk ke perutmu.

Saat ini, bukan lagi seperti dulu ketika aku selalu ada untuk mengajarimu. Aku menua dengan segala kekurangan fisik dan pikiranku. Janganlah bersedih. Tetaplah bersuka cita, seperti suka citaku di masa kecilmu. Bagaimana pun masa kecilmu telah menjadi inspirasi, kekuatan, serta penghiburan bagiku. Satu hal yang engkau harus tau.... jiwaku tetap seperti dulu, selalu bersorak-sorai, ber hip hip hura ketika bersamamu.

Nanti, jika aku pergi menghadap Yang Maha Kuasa, aku akan merepotkanmu lagi dengan segala urusan yang berhubungan denganku dan engkau akan menumpahkan air matamu. Jangan terlalu menangisiku. Ikhlaskanlah kepergianku dan genapilah sukacitaku. Lakukanlah segala sesuatu untuk pemberangkatanku dengan senang hati . Ingatlah bahwa aku sudah ada gantinya di dunia ini, dirimu, anakku..

Seorang anak tidak pernah memilih untuk dilahirkan, dan orangtu tidak memilih untuk mengalami masa tua dan renta. Namun semua itu adalah masa-masa indah buatku dan semoga juga selalu indah bagimu,

Ayahmu.
(Bread for a friends, Lintong Simaremare hal. 33-36)

When I'm older I'll be so glad if I grow up to be like dad. ayah juara satu seluruh dunia. :D


cuma iklan :)


diam tidak selalu pasif. orang mengatur strategi untuk melangkah pada tahap yang lebih baik di kemudian hari, juga dengan diam. berpikir juga lebih enak dilakukan dengan diam.
yang lebih penting adalah, ada action yang bermutu setelah diam. melakukan sesuatu yang berguna dan berarti, setelah diam berpikir.


"kalau kita tau, kita punya bahasa sendiri waktu kita diam, kenapa kita harus berbicara?"


tapi pada kenyataannya, diam justru membuat orang menebak-nebak.

apasih maksud postingan ini? ah abaikan saja, ini cuma iklan. :)